Bhagavad-gītā Sloka 3.21
yad yad ācarati śresthas
tat tad evetaro janah
sa yat pramānam kurute
lokas tad anuvartate
artinya :
"Perbuatan apapun yang dilakukan orang
besar, akan diikuti oleh orang awam. Standar apapun yang ditetapkan dengan
perbuatannya sebagai teladan, diikuti oleh seluruh dunia."
Seorang
yang memiliki kemampuan untuk menyatukan berbagai pandangan yang
berbeda disebut pemimpin. Seorang pemimpin perlu memiliki seni untuk
memimpin orang orang, seni tersebut sering disebut dengan istilah
kepemimpinan.
Banyak
orang bisa menjadi pimpinan, tetapi tidak banyak di anatara yang
bersangkutan bisa menjadi pemimpin karena yang bersangkutan harus
memahami dan mengerti tentang kepemimpinan.
Pengertian Kepemimpinan
Secara
umum, kepemimpinan diartikan sebagai kemampuan untuk mengkoordinir dan
mengerahkan orang-orang serta golongan-golongan untuk tujuan yang
Bahasan mengenai pemimpin dan kepemimpinan pada umumnya menjelaskan
bagaimana untuk menjadi pemimpin yang baik, gaya dan sifat yang sesuai
dengan kepemimpinan serta syarat-syarat apa yang perlu dimiliki oleh
seorang pemimpin yang baik.
Menyimak pengertian di atas maka terkait dengan kepemimpinan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, kepemimpinan selalu melibatkan orang lain sebagai pengikut. Kedua, dalam kepemimpinan terjadi pembagian kekuatan yang tidak seimbang antara pemimpin dan yang dipimpin.Ketiga, kepemimpinan merupakan kemampuan menggunakan bentuk-bentuk kekuatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Keempat, kepemimpinan adalah suatu nilai (values), suatu proses kejiwaan yang sulit diukur. Kata
kepemimpinan berasal dari kata dasar pimpin yang artinya bimbing atau
tuntun. Dari kata pimpin lahirlah kata kerja memimpin yang artinya
membimbing atau menuntun, da kata benda pemimpin yaitu orang yang
berfungsi memimpin atau menuntun atau orang yang membimbing.
Kepemimpinan memiliki berbagai istilah seperti : Leadership “leader”
dari kata asing, management dari kata ilmu administrasi dan Nitisastra
dari kata Hindu.
Kepemimpinan dalam Hindu
Dalam
agama Hindu, banyak ditemukan istilah yang menunjuk pada pengertian
pemimpin. Bila bakat kepemimpinannya yang menonjol dan mampu memimpin
sebuah organisasi dengan baik disebut Ksatriya, karena kata ksatriya artinya
yang memberi perlindungan. Demikian pula yang memiliki kecerdasan yang
tinggi, senang terjun di bidang spiritual, ia adalah seorang Brahmana. Demikian pula profesi-profesi masyarakat seperti pedagang, bussinessman, petani, nelayan dan sebagainya.
Dalam
sejarah Hindu banyak contoh pemimpin yang perlu dijadikan suri teladan.
Di setiap jaman dalam sejarah Hindu selalu muncul tokoh yang menjadi
pemimpin. Sebut saja Erlangga, Sanjaya, Ratu Sima, Sri Aji Jayabhaya,
Jayakatwang, Kertanegara, Hayam Wuruk, Gajah Mada, dan masih banyak lagi
lainnya. Di era sekarang banyak tokoh Hindu yang juga dapat dijadikan
sebagai panutan/pimpinan seperti : Mahatma Gandhi, Svami Vivekananda,
Ramakrsna, Sri Satya Sai dan sebagainya.
Selain
itu contoh kepemimpinan Hindu yang ideal dapat ditemukan dalam cerita
Itihasa dan Purana. Banyak tokoh dalam cerita tersebut yang diidealkan
menjadi pemimpin Hindu. Misalnya: Dasaratha, Sri Rama, Wibhisana, Arjuna
Sasrabahu, Pandudewanata, Yudisthira dan lain-lain.
Kepemimpinan Hindu dan Niti Sastra
Kitab
atau susastra Hindu yang banyak mengulas tentang konsep-konsep
kepemimpinan termasuk etika dan moral di dalamnya disebut dengan kitab
“Niti Sastra”. Kata ini berasal dari Kata Sanskerta “ niti ” yang berarti bimbingan, dukungan, bijaksana, kebijakan, etika. Sedangkan “ sastra “ berarti
perintah, ajaran, nasihat, aturan, teori, dan tulisan ilmiah.
Berdasarkan uraian diatas di atas maka kata Nitisastra berarti ajaran
pemimpin. Dengan demikian ruang lingkup niti sastra tentu sangat luas
mencakup pula etika, moralitas, sopan santun dan sebagainya. Dari
pemahaman etimologis tersebut maka “ niti sastra ”dapat diartikan
sebagai keseluruhan sastra yang memberikan ketentuan, bimbingan, arahan
bagi umat manusia dalam berbagai aspek kehidupan agar menjadi lebih
teratur, terarah, dan lebih baik.
Selama ini fokus atau pokok bahasan yang menjadi topik dari niti sastra adalah Kautilya Artha Sastra. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan sebagai berikut: Pertama, Kautilya adalah ahli politik dan kenegaraan tersohor; Kedua, kelengkapan dan kecermatan Kautilya dalam menyusun karyanya; Ketiga, bahasanya sangat mendetail;Keempat, perbandingan opini penyusun sebelumnya; Kelima, ketersediaan dokumen dan hanya dokumen Kautilya Artha Sastra ditemukan secara utuh.
Untuk memahami kepemimpinan Hindu atau kepemimpinan yang universal, seseorang dianjurkan untuk mempelajari niti sastra. Mengingat, pengetahuan dan pemahaman sejarah/konsep pemikiran Hindu (niti sastra)
di bidang Politik, ketatanegaraan, ekonomi, dan hukum yang masih
relevan sampai kini. Konsep-konsep tersebut adalah sumber penting yang
memberi kontribusi perkembangan konsep-konsep selanjutnya di India,
Asia bahkan, dunia. Adapun kontribusiniti sastra dalam peradaban global antara lain :
· Pemikiran dalam niti sastra dapat
memberi masukan penting berupa konsep dan nilai positif dalam
pengembangan, pembaharuan, penyusunan kembali konsep-konsep politik,
ketatanegaraan, ekonomi, peraturan hukum era kini.
· Usaha
menggali, mengangkat nilai-nilai Hindu sebagai sumbangan Hindu dalam
percaturan dunia keilmuan. Paradigma sosial bahwa politik itu kotor
dapat hilang.
Tujuan Kepemimpinan Hindu
Negara
sebagai wadah umat manusia untuk mewujudkan cita – cita hidupnya
memiliki empat prinsip dasar. Antara lain sebagai berikiut :
1. Machstaat adalah
prinsip Negara untuk menguasai segala potensi yang dimiliki oleh
negarayang bersangkutan untuk diabdikan kembali pada tujuan masyarakat
Negara itu.
2. Rechtaat adalah
prinsip Negara yang bertujuan untuk mengatur kehidupan Negara yang
bertujuan untuk mengatur kehidupan Negara agar berbagai keadaan dan
kepentingan yang berbeda – beda dapat diatur dalam rangka mempercepat
tercapainya tujuan Negara.
3. Polisistaat adalah
suatu prinsip Negara yang memandang segala seluk beluk kehidupan Negara
harus dijaga agar tidak terjadi penyimpangan – penyimpangan demi
terwujudnya tujuan Negara tepat pada sasarannya.
4. Supervisorystaat adalah
prinsip Negara yang memandang bahwa fungsi Negara ialah mendorong
segala unsur – unsur Negara untuk lebih cepat mencapai tujuan.
Bagi
umat yang mendapat kesempatan sebagai pemimpin Negara, tuntunan ajaran
agama hindu bertujuan untuk membentuk kepemimpinan Negara yang
baik,kuat, bersih, dan berwibawa.
Masyarakat
akan lebih mudah diatur oleh para pemimpin Negara apabila dalam
masyarakat itu tiap – tiap anggotanya sadar akan hak dan kewajibannya.
Kesejahteraan masyarakat Negara akan terwujud apabila setiap warga
Negara mau berjuang untuk mensejahterakan dirinya, keluarga,dan
lingkungannya. Diri pribadi umat manusia akan tentram apabila atmanya
menguasai budhi,budhinya menguasai manah,manahnya menguasai perasaan
atau manahnya dikuasai oleh rajas,rajasnya dikuasai oleh tamas, dan
tamasnya dikuasai oleh sattwam.
Pemimpin
Negara harus memiliki konsep – konsep kepemimpinan yang utama untuk
dapat menata Negaranya. Hal ini dapat berarti kewibawaan pemimpin Negara
harus didasarkan pada kewibawaan yang murni dan bukan atas kewibawaan
yang dilandisi oleh kekuasaan.
Fungsi Kepemimpinan
Berdasarkan
tinjauan terminologis, etimolis dan semantik serta berdasar
kutipan-kutipan terjemahan mantra Veda dan terjemahan sloka-sloka kitab
Arthasastra maka dapat dirumuskan fungsi-fungsi kepemimpinan dalam
Hindu atas dua jenis fungsi, yaitu:
1. Melindungi
masyarakat, memberikan rasa aman, bertanggung jawab serta memberikan
bimbingan kepada warganya untuk turut mewujudkan rasa aman dan tentram
dikalangan mereka (fungsi security).
2. Mewujudkan
kemakmuran bersama-sama anggota masyarakat untuk mewujudkan
kesejahtraan, kemakmuran dan melepaskan pederitaan masyarakat lahir dan
batin (fungsi prosperity).
Kepemimpinan
yang berlandaskan ajaran Agama Hindu tentunya dapat mengaktualisasikan
ajaran Agama Hindu. Untuk itu fungsi-fungsi agama bagi kehidupan manusia
harus disadari dan dipahami oleh seorang pemimpin, sebab membahas
kepemimpinan Hindu tidak dapat melepaskan diri untuk tidak mengkaji
ajaran Agama Hindu. Dalam hubungannya dengan kehidupan manusia, agama
dan juga pemimpin atau kepemimpinan mempunyai fungsi-fungsi sebagai
berikut :
1. Sebagai factor motivatif, mendorong, mendasari, melandasi cita-cita dan amal perbuatan manusia dalam seluruh aspek kehidupannya.
2. Sebagai
faktor kreatif, produktif dan innovatif, mendorong dan mengharuskan
untuk tidak hanya melakukan kerja produktif saja, tetapi juga kreatif
dan innovatif.
3. Sebagai
faktor integratif, memadukan segenap aktivitas manusia baik sebagai
individu maupun sebagai anggota masyarakat dalam berbagai bidang
kehidupan. Keyakinan dan penghayatan terhadap ajaran agama akan
menghindarkan manusia dari situasi dan kepribadiannya yang pecah. Dengan
keutuhan kepribadiannya itu manusia akan mampu menghadapi berbagai
macam tantangan dan resiko kehidupan.
4. Sebagai
faktor sublimatif atau transformatif, mampu mengubah sikap dan prilaku,
perkataan maupun perbuatan sesuai sesuai dengan ajaran agama.
5. Sebagai faktor inspiratif, memberikan inspirasi bagi pengembangan seni dan budaya yang dijiwai oleh Agama Hindu.
Asas – Asas Kepemimpinan Hindu
Hindu
sebagai agama tertua di dunia sudah tentu menjadi agama yang paling
kaya akan sastra – sastra agamanya. Berbagai macam ajaran agama
dimilikinya, yang terutama sekali kepemimpinan Hindu bersumber dari
kitab suci Weda dan diajarkan oleh para orang-orang suci. Kepemimpinan
Hindu juga banyak mengacu pada tatanan alam semesta yang merupakan
ciptaan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Adapun konsep-konsep Kepemimpinan Hindu yang banyak diajarkan dalam sastra dan susastra-nya antara lain : Sad Warnaning Rajaniti, Catur Kotamaning Nrpati, Tri Upaya Sandi, Pañca Upaya Sandi, Asta Brata, Nawa Natya, Pañca Dasa Paramiteng Prabhu, Sad Upaya Guna, Pañca Satya dan lain-lain. Berikut ini rincian dari konsep-konsep kepemimpinan Hindu.
A. Sad Warnaning Rajaniti
Sad Warnaning Rajaniti atau Sad Sasana adalah
enam sifat utama dan kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang raja.
Konsep ini ditulis Candra Prkash Bhambari dalam buku “Substance of Hindu Politic”. Adapun bagian-bagian Sad Warnaning Rajaniti ini adalah :
1. Abhigamika, artinya seorang raja atau pemimpin harus mampu menarik perhatian positif dari rakyatnya.
2. Prajña, artinya seorang raja atau pemimpin harus bijaksana.
3. Utsaha, artinya seorang raja atau pemimpin harus memiliki daya kreatif yang tinggi.
4. Atma Sampad, artinya seorang raja atau pemimpin harus bermoral yang luhur.
5. Sakya samanta,
artinya seorang raja atau pemimpin harus mampu mengontrol bawahannya
dan sekaligus memperbaiki hal-hal yang dianggap kurang baik.
6. Aksudra Parisatka,
artinya seorang raja atau pemimpin harus mampu memimpin sidang para
menterinya dan dapat menarik kesimpulan yang bijaksana sehingga diterima
oleh semua pihak yang mempunyai pandangan yang berbeda-beda.
B. Catur Kotamaning Nrpati
Catur Kotamaning Nrpati merupakan
konsep kepemimpinan Hindu pada jaman Majapahit sebagaimana ditulis oleh
M. Yamin dalam buku “Tata Negara Majapahit”. Catur Kotamaning Nrpatiadalah empat syarat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Adapun keempat syarat utama tersebut adalah :
· Jñana Wisesa Suddha,
artinya raja atau pemimpin harus memiliki pengetahuan yang luhur dan
suci. Dalam hal ini ia harus memahami kitab suci atau ajaran agama.
· Kaprahitaning Praja,
artinya raja atau pemimpin harus menunjukkan belas kasihnya kepada
rakyatnya. Raja yang mencintai rakyatnya akan dicintai pula oleh
rakyatnya. Hal ini sebagaimana perumpamaan singa (raja hutan) dan hutan
dalam Kakawin Niti Sastra I.10 berikut ini :
Singa
adalah penjaga hutan, akan tetapi juga selalu dijaga oleh hutan. Jika
singa dengan hutan berselisih, mereka marah, lalu singa itu meninggalkan
hutan. Hutannya dirusak binasakan orang, pohon-pohonnya ditebangi
sampai menjadi terang, singa yang lari bersembunyi dalam curah, di
tengah-tengah ladang, diserbu dan dibinasanakan.
· Kawiryan,
artinya seorang raja atau pemimpin harus berwatak pemberani dalam
menegakkan kebenaran dan keadilan berdasarkan pengetahuan suci yang
dimilikinya sebagainya disebutkan pada syarat sebelumnya.
· Wibawa,
artinya seorang raja atau pemimpin harus berwibawa terhadap bawahan dan
rakyatnya. Raja yang berwibawa akan disegani oleh rakyat dan
bawahannya.
C. Tri Upaya Sandhi
Di
dalam Lontar Raja Pati Gundala disebutkan bahwa seorang raja harus
memiliki tiga upaya agar dapat menghubungkan diri dengan rakyatnya.
Adapun bagian-bagian Tri Upaya Sandi adalah :
· Rupa,
artinya seorang raja atau pemimpin harus mengamati wajah dari para
rakyatnya. Dengan begitu ia akan tahu apakah rakyatnya sedang dalam
kesusahan atau tidak.
· Wangsa,
artinya seorang raja atau pemimpin harus mengetahui susunan masyarakat
(stratifikasi sosial) agar dapat menentukan pendekatan apa yang harus
digunakan.
· Guna,
artinya seorang raja atau pemimpin harus mengetahui tingkat peradaban
atau kepandaian dari rakyatnya sehingga ia bisa mengetahui apa yang
diperlukan oleh rakyatnya.
D. Pañca Upaya Sandhi
Dalam
Lontar Siwa Buddha Gama Tattwa disebutkan ada lima tahapan upaya yang
harus dilakukan oleh seorang raja dalam menyelesaikan
persoalan-persoalan yang menjadi tanggung jawab raja. Adapun
bagian-bagian dari Pañca Upaya Sandi ini adalah :
· Maya,
artinya seorang pemimpin perlu melakukan upaya dalam mengumpulkan data
atau permasalahan yang masih belum jelas duduk perkaranya (maya).
· Upeksa,
artinya seorang pemimpin harus meneliti dan menganalisis semua
data-data tersebut dan mengkodifikasikan secara profesional dan
proporsional.
· Indra Jala,
artinya seorang pemimpin harus bisa mencarikan jalan keluar dalam
memecahkan persoalan yang dihadapi sesuai dengan hasil analisisnya tadi.
· Wikrama, artinya seorang pemimpin harus melaksanakan semua upaya penyelesaian dengan baik sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.
· Logika,
artinya seorang pemimpin harus mengedepankan pertimbangan-pertimbangan
logis dalam menindak lanjuti penyelesaian permasalahan yang telah
ditetapkan.
E. Asta Brata
Semua
raja harus memuja Asta Brata ini. Karena Asta Brata ini merupakan
delapan landasan sikap mental bagi seorang pemimpin. Adapun delapan
bagian Asta Brata tersebut adalah :
· Indra Brata,
kepemimpinan bagaikan Dewa Indra atau Dewa Hujan; Di mana hujan itu
berasal dari air laut yang menguap. Dengan demikian seorang pemimpin
berasal dari rakyat harus kembali mengabdi untuk rakyat.
· Yama Brata, kepemimpinan yang bisa menegakkan keadilan tanpa pandang bulu bagaikan Sang Hyang Yamadipati yang mengadiliSang Suratma.
· Surya Brata, kepemimpinan yang mampu memberikan penerangan kepada warganya bagaikan Sang Surya yang menyinari dunia.
· Candra Brata, mengandung
maksud pemimpin hendaknya mempunyai tingkah laku yang lemah lembut atau
menyejukkan bagaikan Sang Candra yang bersinar di malam hari.
· Bayu Brata, mengandung maksud pemimpin harus mengetahui pikiran atau kehendak (bayu) rakyat dan memberikan angin segar untuk para kawula alit atau wong cilik sebagimana sifat Sang Bayu yang berhembus dari daerah yang bertekanan tinggi ke rendah.
· Baruna Brata, mengandung
maksud pemimpin harus dapat menanggulangi kejahatan atau peyakit
masyarakat yang timbul sebagaimana Sang Hyang Baruna membersihkan segala
bentuk kotoran di laut.
· Agni Brata, mengandung maksud pemimpin harus bisa mengatasi musuh yang datang dan membakarnya sampai habis bagaikan Sang Hyang Agni.
· Kwera atau Prthiwi Brata,
mengandung maksud seorang pemimpin harus selalu memikirkan
kesejahteraan rakyatnya sebagaimana bumi memberikan kesejahteraan bagi
umat manusia dan bisa menghemat dana sehemat-hematnya seperti Sang Hyang
Kwera dalam menata kesejahteraan di kahyangan.
F. Nawa Natya
Dalam Lontar Jawa Kuno yang berjudul “Nawa Natya”
dijelaskan bahwa seorang raja dalam memilih pembantu-pembantunya
(menterinya). Ada sembilan kriteria yang harus diperhatikan oleh seorang
raja dalam memilih para pembantunya. Sembilan kriteria inilah yang
dikenal sebagai Nawa Natya. Adapun kesembilan kriteria itu adalah:
· Prajña Nidagda (bijaksana dan teguh pendiriannya).
· Wira Sarwa Yudha (pemberani dan pantang menyerah dalam setiap medan perang).
· Paramartha (bersifat mulia dan luhur)
· Dhirotsaha (tekun dan ulet dalam setiap pekerjaan)
· Wragi Wakya (pandai berbicara atau berdiplomasi)
· Samaupaya (selalu setia pada janji)
· Lagawangartha (tidak pamrih pada harta benda)
· Wruh Ring Sarwa Bastra (bisa mengatasi segala kerusuhan)
· Wiweka (dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk)
G. Pañca Dasa Pramiteng Prabhu
Dalam
Lontar Negara Kertagama, Rakawi Prapañca menuliskan keutamaan
sifat-sifat Gajah Mada sebagai Maha Patih Kerajaan Majapahit.
Sifat-sifat utama itu pula yang mengahantarkan Majapahit mencapai puncak
kejayaannya. Sifat-sifat utama tersebut ada 15 yang disebut sebagai
Pañca Dasa Pramiteng Prabhu. Adapun kelima belas bagian dari Pañca Dasa
Pramiteng Prabhu tersebut adalah :
· Wijayana (bijaksana dalam setiap masalah)
· Mantri Wira (pemberani dalam membela negara)
· Wicaksananengnaya (sangat bijaksana dalam memimpin)
· Natanggwan (dipercaya oleh rakyat dan negaranya)
· Satya Bhakti Prabhu (selalu setia dan taat pada atasan)
· Wagmiwak (Pandai bicara dan berdiplomasi)
· Sarjawa Upasama (sabar dan rendah hati)
· Dhirotsaha (teguh hati dalam setiap usaha)
· Teulelana (teguh iman dan optimistis)
· Tan Satrsna (tidak terlihat pada kepentingan golongan atau pribadi)
· Dibyacita (lapang dada dan toleransi)
· Nayakken Musuh (mampu membersihkan musuh-musuh negara)
· Masihi Samasta Bawana (menyayangi isi alam)
· Sumantri (menjadi abdi negara yang baik)
· Gineng Pratigina (senantiasa berbuat baik dan menghindari pebuatan buruk)
H. Sad Upaya Guna
Dalam
Lontar Rajapati Gondala dijelaskan ada enam upaya yang harus dilakukan
oleh seorang raja dalam memimpin negara. Keenam upaya ini disebut juga
sebagai Sad Upaya Guna. Adapun keenam upaya tersebut adalah : Siddhi (kemampuan bersahabat);Wigrha (memecahkan setiap persoalan); Wibawa (menjaga kewibawaan); Winarya (cakap dalam memimpin); Gascarya (mampu menghadapi lawan yang kuat) dan Stanha (menjaga hubungan baik).
Dalam
lontar yang sama disebutkan pula ada 10 macam orang yang bisa dijadikan
sahabat oleh Raja. Kesepuluh macam tersebut adalah orang yang :
1. Satya (jujur)
2. Arya (orang besar/mulia)
3. Dharma (baik)
4. Asurya (dapat mengalahkan musuh)
5. Mantri (bisa mengabdi dengan baik)
6. Salya Tawan (banyak kawannya)
7. Bali (kuat dan sakti)
8. Kaparamarthan (mempunyai visi yang jelas)
9. Kadiran (tetap pendiriannya)
10. Guna (banyak ilmunya)
I. Pañca Satya
Selain
upaya, sifat dan kriteria sebagaimana yang telah disebutkan di atas,
masih ada satu lagi landasan bagi pemimpin Hindu dalam melaksanakan
tugasnya sehari-hari. Landasan ini ada lima yang dikenal sebagai Pañca
Satya. Lima Satya ini harus dijadikan sebagai landasan bagi seorang
pemimpin Hindu di manapun dia berada. Kelima landasan itu adalah :
1. Satya Hrdaya (jujur terhadap diri sendiri / setia dalam hati)
2. Satya Wacana (jujur dalam perkataan / setia dalam ucapan)
3. Satya Samaya (setia pada janji)
4. Satya Mitra (setia pada sahabat)
5. Satya Laksana (jujur dalam perbuatan)
Kelima
ini juga harus dijadikan pedoman dalam hidupnya. Sehingga ia akan
menjadi seorang pemimpin yang hebat, berwibawa, disegani dan sebagainya.
Tingkat keberhasilan dari seorang pemimpin dalam memimpin itu sendiri ditentukan oleh dua faktor, yaitu : faktor usaha manusia (Manusa atau jangkunging manungsa) dan faktor kehendak Tuhan (Daiwa atau jangkaning Dewa). Sementara tingkat keberhasilannya bisa berupa penurunan (Ksaya), tetap atau stabil (Sthana) dan peningkatan atau kemajuan (Vrddhi).
Sifat-Sifat Kepemimpinan Hindu
Sifat
dan sikap yang dimiliki seorang pemimpin merupakan penentu berhasil
atau tidaknya seorang pemimpin dalam menjalankan roda pemnerintahan.
Sifat dan sikap yang dimiliki oleh pemimpin dapat disempurnakan dengan
mendalami, mempedomani, dan mengamalkan ajaran-ajaran serta berbagai
ilmu pengetahuan yang dipelajari.
Menurut
Prof. Arifin Abdul Rachman dalam bukunya yang berjudul “Kerangka
Pokok-pokok Mengenai Management Umum” menyebutkan bahwa terdapat tiga
golongan sifat-sifat para pemimpin, antara lain:
1. Sifat-sifat
pokok, yaitu sifat-sifat dasar yang dimiliki oleh setiap pemimpin,
antara lain adil, suka melindungi/mengayomi, penuh inisiatif, penuh daya
tarik, dan penuh kepercayaan pada diri sendiri.
2. Sifat-sifat
khusus karena pengaruh tempat, yaitu sifat-sifat yang pada pokoknya
sesuai dengan keperibadian bangsa, seperti bangsa Indonesia dengan
Pancasila sebagai keperibadiannya, sebagai dasar Negara, dan cita-cita
bangsa.
3. Sifat-sifat
khusus karena pengaruh dari berbagai macam atau golongan pemimpin,
seperti pemimpin partai politik, pemimpin keagamaan, pemimpin serikat
buruh, dan sebagainya.
Dalam lontar Raja Pati Gondala disebutkan ada sepulu hal yang patut dijadikan sahabat oleh seorang pemimpin, yaitu:
1. Satya, artinya kejujuran
2. Arya, artinya orang besar
3. Dharma, artinya kebajikan
4. Asurya, artinya orang yang dapat mengalahkan musuh
5. Mantri, artinya orang yang dapat mengalahkan kesusahan
6. Salyatawan, artinya orang yang banyak sahabatnya.
7. Bali, artinya orang yang kuat dan sakti.
8. Kaparamarthan, artinya kerohanian
9. Kadiran, artinya orang yang tetap pendiriannya
10. Guna, artinya orang yang pandai.
Demikianlah
sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin agar dapat
memimpin masyarakatnya dengan baik sehingga tercapai tujuan bangsa dan
Negara yang dipimpinnya.
Dari penjelasan tentang Kepemimpinan dalam Hindu di atas, hanya 1 yang bisa sampaikan yaitu terapkanlah konsep - konsep kepemimpinan Hindu tersebut dalam kehidupan sehari - hari agar nantinya ada banyak pimpinan - pimpinan yang berasal dari generasi muda Hindu, jika kalian para pembaca ingin mengetahui lebih banyak tentang hal yang berkaitan dengan keagamaan silakan klik link ini
Dari penjelasan tentang Kepemimpinan dalam Hindu di atas, hanya 1 yang bisa sampaikan yaitu terapkanlah konsep - konsep kepemimpinan Hindu tersebut dalam kehidupan sehari - hari agar nantinya ada banyak pimpinan - pimpinan yang berasal dari generasi muda Hindu, jika kalian para pembaca ingin mengetahui lebih banyak tentang hal yang berkaitan dengan keagamaan silakan klik link ini